Pengaruh Sikap Zuhud terhadap Perilaku Sabar Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

20 August 2026 · Admin HAQU

Pengaruh Sikap Zuhud terhadap Perilaku Sabar Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan keagamaan siswa, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu karakter penting yang perlu ditanamkan adalah sikap sabar

Pengaruh Sikap Zuhud terhadap Perilaku Sabar Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

Abstrak

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan keagamaan siswa, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu karakter penting yang perlu ditanamkan adalah sikap sabar. Sabar diperlukan siswa dalam menghadapi kesulitan belajar, kegagalan, perbedaan pendapat, serta berbagai permasalahan di lingkungan sekolah. Salah satu nilai Islam yang dapat mendukung terbentuknya perilaku sabar adalah zuhud. Zuhud bukan berarti meninggalkan kehidupan dunia, tetapi tidak menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan utama. Sikap tersebut dapat membantu siswa mengendalikan keinginan, tidak berlebihan, dan lebih mampu menghadapi proses kehidupan dengan tenang. Artikel ini bertujuan membahas keterkaitan sikap zuhud dengan perilaku sabar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Berdasarkan kajian literatur, sikap zuhud memiliki hubungan dengan pembentukan perilaku sabar karena keduanya sama-sama berkaitan dengan pengendalian diri dan kemampuan menghadapi kehidupan secara proporsional.

Kata kunci: Zuhud, Sabar, Pendidikan Agama Islam, Karakter Siswa.

Pendahuluan

Pendidikan merupakan proses penting dalam membentuk manusia yang memiliki pengetahuan sekaligus karakter yang baik. Dalam pendidikan Islam, keberhasilan pendidikan tidak hanya dilihat dari kemampuan siswa memahami materi pelajaran, tetapi juga dari kemampuan menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti memiliki peranan penting dalam membentuk peserta didik agar memiliki akhlak mulia, sikap bertanggung jawab, serta perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam.

Salah satu karakter yang sangat penting bagi siswa adalah sabar. Dalam kehidupan sekolah, siswa menghadapi berbagai situasi yang membutuhkan kesabaran, seperti kesulitan memahami pelajaran, mendapatkan nilai yang kurang baik, menyelesaikan tugas, menghadapi teguran guru, maupun menyelesaikan konflik dengan teman. Siswa yang memiliki sikap sabar akan lebih mampu mengendalikan emosi dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Dalam Islam, sabar memiliki kedudukan yang sangat penting. Al-Qur'an memerintahkan orang-orang beriman agar menjadikan sabar dan salat sebagai sarana memohon pertolongan Allah SWT. Hal tersebut menunjukkan bahwa sabar bukan sekadar sikap pasif, melainkan kekuatan dalam menghadapi berbagai ujian dan menjalankan ketaatan.

Selain sabar, Islam juga mengajarkan sikap zuhud. Zuhud merupakan sikap tidak berlebihan dalam mencintai dan mengejar kehidupan dunia. Zuhud tidak berarti seseorang harus meninggalkan harta, pendidikan, pekerjaan, atau kehidupan sosial. Zuhud lebih kepada kemampuan menempatkan dunia secara proporsional sehingga seseorang tidak diperbudak oleh keinginan duniawi.

Nilai zuhud menjadi relevan bagi siswa pada masa sekarang. Perkembangan teknologi dan media sosial memberikan berbagai bentuk kesenangan secara cepat. Apabila tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat membuat siswa terbiasa dengan sesuatu yang instan dan kurang mampu menghadapi proses yang membutuhkan waktu dan kesabaran.

Pembahasan

Sikap Zuhud dalam Kehidupan Siswa

Zuhud dapat dipahami sebagai sikap sederhana dan tidak berlebihan terhadap kehidupan dunia. Seseorang yang zuhud tetap dapat memiliki harta, menggunakan teknologi, belajar, dan mencapai prestasi, tetapi semua itu tidak menjadi tujuan utama hidupnya.

Dalam kehidupan siswa, sikap zuhud dapat diwujudkan dengan tidak berlebihan dalam mengejar popularitas, tidak iri terhadap kepemilikan teman, menggunakan media sosial secara bijak, serta lebih mengutamakan ilmu dan akhlak daripada sekadar penampilan atau pengakuan orang lain.

Sikap tersebut juga mengajarkan pengendalian diri. Misalnya, siswa mampu memilih belajar ketika waktunya belajar meskipun memiliki keinginan untuk bermain atau menggunakan media sosial. Kemampuan mengendalikan keinginan tersebut merupakan salah satu dasar penting dalam membentuk perilaku sabar.

Perilaku Sabar Siswa

Sabar merupakan kemampuan untuk mengendalikan diri dalam menghadapi kesulitan dan tetap melakukan sesuatu yang benar. Dalam konteks pendidikan, sabar dapat terlihat dari ketekunan siswa menyelesaikan tugas, kesediaan belajar kembali ketika belum memahami materi, kemampuan menerima kritik, serta kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi masalah.

Sabar juga tidak berarti hanya menerima keadaan. Siswa yang sabar tetap berusaha memperbaiki keadaan. Ketika memperoleh nilai rendah, misalnya, siswa tidak langsung menyerah, tetapi mengevaluasi kesalahan dan berusaha meningkatkan hasil belajarnya.

Kajian tentang sabar dalam pendidikan Islam menunjukkan bahwa kesabaran dapat membantu siswa menghadapi proses belajar secara lebih tenang, tekun, dan terbuka terhadap pengetahuan baru.

Hubungan Zuhud dengan Sabar

Zuhud dan sabar memiliki hubungan yang erat karena keduanya berkaitan dengan pengendalian diri. Zuhud membantu seseorang tidak berlebihan dalam mengejar kesenangan dunia, sedangkan sabar membantu seseorang bertahan ketika menghadapi kesulitan dan proses yang tidak mudah.

Sebagai contoh, seorang siswa yang mampu mengendalikan keinginannya untuk bermain media sosial saat belajar akan lebih mudah berkonsentrasi menyelesaikan tugas. Ketika tugas tersebut sulit, ia tidak mudah menyerah karena telah terbiasa mengendalikan keinginan dan menunda kesenangan.

Penelitian Mutaqien, Sukarelawan, dan Khadijah mengenai pengaruh sikap zuhud terhadap perilaku sabar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti menemukan adanya pengaruh antara kedua variabel tersebut. Penelitian tersebut melaporkan kontribusi pengaruh sikap zuhud terhadap perilaku sabar sebesar 12,7%, sedangkan faktor lain memberikan kontribusi sebesar 87,3%.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa zuhud dapat menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan pembentukan kesabaran, meskipun bukan satu-satunya faktor. Perilaku sabar siswa juga dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan sekolah, guru, teman sebaya, pemahaman agama, serta pengalaman pribadi.

Implementasi dalam Pembelajaran PAI

Guru Pendidikan Agama Islam dapat mengintegrasikan nilai zuhud dan sabar dalam pembelajaran melalui keteladanan dan pembiasaan. Guru dapat memberikan contoh bagaimana menghadapi masalah dengan tenang, mengajarkan siswa untuk menghargai proses, serta menghubungkan materi akhlak dengan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan seperti membaca Al-Qur'an, menghafal ayat atau hadis, melakukan kegiatan sosial, membuat jurnal refleksi, dan membiasakan siswa menyelesaikan tugas secara bertahap dapat digunakan untuk melatih kesabaran.

Sementara itu, nilai zuhud dapat diterapkan melalui pembiasaan hidup sederhana, tidak berlebihan menggunakan fasilitas, menghargai teman tanpa membedakan status ekonomi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, pembelajaran PAI tidak hanya menghasilkan siswa yang memahami teori agama, tetapi juga membentuk siswa yang mampu mengamalkan nilai agama dalam perilaku sehari-hari.

Kesimpulan

Sikap zuhud memiliki keterkaitan dengan pembentukan perilaku sabar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Zuhud mengajarkan siswa untuk tidak berlebihan mengejar kesenangan dunia, sedangkan sabar mengajarkan ketekunan dan kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi kesulitan.

Penerapan nilai zuhud dan sabar dalam pendidikan dapat membantu siswa menjadi lebih disiplin, sederhana, mampu mengendalikan emosi, tidak mudah menyerah, serta mampu menghadapi proses pembelajaran dengan lebih baik. Namun, perilaku sabar tidak hanya dipengaruhi oleh zuhud. Faktor keluarga, guru, lingkungan sekolah, teman sebaya, dan pengalaman siswa juga memiliki peranan penting.

Oleh karena itu, Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti perlu diarahkan tidak hanya pada penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga pada pembiasaan dan keteladanan agar nilai-nilai Islam benar-benar tercermin dalam kehidupan siswa.

Referensi

Al-Qur'an. Q.S. Al-Baqarah: 153.

Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya' 'Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Jauziyyah, Ibnul Qayyim. Uddatush Shabirin wa Dzakhiratusy Syakirin.

Mutaqien, R. M., Sukarelawan, A. G., & Khadijah, E. (2026). “Pengaruh Sikap Zuhud Terhadap Perilaku Sabar Siswa pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas XI TKJ 1 di SMKN 1 Buahdua.” Kaipi: Kumpulan Artikel Ilmiah Pendidikan Islam, 4(1), 1–13.

Maghfirah, Syabuddin, & Suyanta, S. (2025). “Sabar sebagai Strategi Belajar Qur’ani: Analisis Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr dalam Perspektif Pendidikan Modern.” Taklim: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 23(1).

Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Ubaid, Ulya Ali. (2012). Sabar dan Syukur. Jakarta: Amzah.

Kembali ke Berita